dibawah
Keluh Kesah Musisi di Hari Musik Nasional, Konser Virtual Enggak Ada

 

Keluh Kesah Musisi di Hari Musik Nasional, Konser Virtual Enggak Ada

Img

Meski vaksin telah didistribusikan di Indonesia, bukan berarti segala sektor ekonomi kreatif pulih seperti sediakala. Industri musik, salah satu sektor paling terdampak dari pandemi covid-19 masih belum mendapat kepastian untuk kembali menjalankan ragam aktivitas, terutama konser. Dalam diskusi bertajuk Kebangkitan Musik Nasional Pasca Pandemi, Kapan atau Kapan Kapan? yang digelar di M Bloc, pada Selasa, 9 Maret 2020, sejumlah musisi angkat bicara terkait kondisi mereka di tengah pandemi.

 

Saat pandemi, peran media sosial terasa penting sebagai sarana komunikasi dan musisi unjuk karya. Tapi, bukan berarti media sosial mampu menduplikasi rantai ekosistem industri yang tidak dapat dijalankan di masa pandemi. Termasuk soal pendapatan uang, dan tentunya konser.Mau rilis lagu apapun kayak 'anget-anget tai ayam'. Rilis sebulan terus (antusiasme pendengar) turun lagu. Hit-nya instan," kata Danilla.

Beberapa musisi akhirnya banting stir untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan finansial ke sektor-sektor di luar musik.
"Saya bersyukur mengalami transisi jual kaset, CD, RBT, sekarang banyak platform. Gue enggak suka media sosial awalnya, cukup telat untuk melek digital. Mau enggak mau kami beradaptasi. Kami enggak bisa selalu bikin konser minta donasi. Kami musisi punya value, akhirnya gue keluar dari circle musik juga (untuk membangun kemungkinan finansial di luar musik). D'Masiv baru bikin PT juga," kata Rian, vokalis D'Masiv.

Jika hanya mengandalkan konser virtual, para musisi mengaku belum dapat menjaga pemasukan mereka seperti sebelum era pandemi. Konser virtual melibatkan banyak sekali hal, mulai dari infrastruktur internet yang masih buruk, kebiasaan konsumsi konten digital masyarakat kita yang terbiasa dengan konten gratis, dan lain sebagainya. Rian bersama D'Masiv merasa tidak bisa terjebak dalam situasi pandemi dengan hanya menunggu situasi pulih dengan sendirinya. Dia melakukan upaya-upaya kreatif yang diharapkannya mampu menggerakan kembali roda ekosistem musik D'Masiv.

"Kenapa D'Masiv bikin perusahaan bareng, karena kami ingin bikin event musik sendiri.
Tresno Riadi, vokalis Tipe-X, mengatakan bahwa bandnya tidak memanfaatkan situasi pandemi untuk rekaman. Dia sendiri sama sekali tidak mendapatkan "feel" saat tampil secara virtual."Virtual aneh sih, ekspresi penonton hanya lewat chat. Kami berusaha menyenangkan semua. Tetapi virtual enggak asik. Keuntungannya kami bisa kembali ketemu temen-temen tim produksi (saat konser virtual), tetapi feel-nya konser virtual sama sekali enggak ada." "Tapi, ada bagusnya. Kami jadi kelar bikin album," ujar Tresno.