Geliat Musik Indie di Indonesia

Geliat Musik Indie di Indonesia

Nama BLACK TEETH atau AKSITERROR mungkin tidak setenar NOAH dan Sheila on 7. Mereka memang bukan pemusik yang bermain di dunia mainstream.Padahal, BLACK TEETH digawangi dua personel Netral, Eno dan Choky.Musiknya jelas, bukan masih mencari-cari jati diri. Mereka menahbiskan diri di aliran punk. Dentuman nadanya menghentak, liriknya sarkas dan punya nyali.

Bedanya dengan band-band lain, mereka memilih jalur independen, atau sering disebut indie. Diterangkan David Karto, pendiri label musik indie terbesar di Indonesia, Demajors, BLACK TEETH berbeda hanya perkara semangat bermusiknya. Mereka mengutamakan kebebasan dan kejujuran.Secara harfiah, sebenarnya tidak ada musik indie. Music is music. Tapi kita tidak mainstream. Secara penciptaan, energi, kebebasan, beda dengan mainstream,” ujarnya pada CNN Indonesia.
Musik mainstream, ia menerangkan, kebutuhan terbesarnya adalah diterima pasar. Tidak heran lirik dan musiknya dibuat menjual. Sementara, musik indie lebih banyak bicara soal kreativitas.Lebih punya kebebasan. Soal lirik, chord, durasi musik secara menit, tidak ditentukan,” kata David menyebutkan, saat ditemui di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta, Rabu (24/9).Menurut David, bermusik seharusnya menyenangkan dan lepas. Jika ada pihak lain yang turut campur dan mengatur, hasilnya tidak akan maksimal. Itu yang terjadi di label mayor.
Kebebasan menjadi kata kunci yang menarik. Itu sering menjadi alasan musisi kondang beralih dari label mayor ke indie. Sandhy Sondoro misalnya, yang hijrah dari Sony Music Indonesia ke Demajors.Saya sudah tidak sevisi lagi, tidak sejalan lagi,” ujar Sandhy mengungkapkan alasannya hijrah. Vulnerability merupakan album terbaru Sandhy yang pertama dirilis dengan label indie.Bukan hanya Sandhy yang memilih ‘jalur alternatif’. Ada Dewa Budjana, Indra Lesmana, yang juga menuangkan ekspresi bermusik dinaungi label indie. Gairah mereka pun mulai menggeliat.

Masa depan cerah
Band-band indie yang dahulu sempat dipandang sebelah mata karena dianggap ‘bawah tanah’, kini mulai punya posisi di belantika musik Indonesia.Lihat saja White Shoes and the Couple Company, yang sudah melampaui lima benua untuk konser. Mereka bahkan dilirik label Amerika untuk bekerjasama. Payung Teduh juga mulai populer.
Tulus, yang merangsek ke dunia musik lewat album Gajah punya agenda yang padat betul. “Buat dia, sebulan itu 60 hari. Sehari bisa dua kali konser,” David menuturkan.Bayarannya sekali pentas pun sama seperti musisi di ranah mainstream. “Gaji manajer bank saja enggak ada yang segitu,” lanjut David sambil berseloroh.
Ada lagi Endah N Rhesa, yang tak pernah alpa mengisi konser jazz di Tanah Air. Berkali-kali mereka diundang ke luar negeri. “Konser ke Jepang seperti Jakarta ke Bandung. Sering banget,” ucap David. Artinya, David menyimpulkan, masa depan musik indie tidak sesuram yang dibayangkan. Buktinya, Demajors bertahan hingga 14 tahun. Mereka membantu ratusan musisi indie menelurkan album.
Tercatat, sekitar 400 album sudah dibawahi Demajors. Beberapa musisinya mulai ternama, seperti White Shoes and the Couple Company, Tulus, Endah N Rhesa, Burgerkill, Superglad, dan Seringai.Kansnya bagus banget. Potensi Indonesia itu tinggi sekali. Indonesia itu ATM buat dunia. Konser contohnya, band apa yang belum datang ke Indonesia?” kata David berargumen.

Jualan ala indie
Hanya saja, ia mengakui bahwa pasar musik indie memang tidak sebesar musik mainstream. David menjelaskan, kebanyakan musik indie bicara soal komunitas. Mereka bisa diundang ke sana-sini, karena adanya komunitas. Yang membedakan hanya pasar dan cara mereka menikmati musiknya. Biasanya, penikmat musik indie lebih loyal. “Kalau nyanyi benar-benar sing along. Mereka datang karena memang mau nonton, dan support the band,” tutur David.
Perilaku dan loyalitas itu bisa dimanfaatkan musisi indie untuk berjualan. Selain mendapat pemasukan dari album dan pentas, mereka biasa menjual beberapa cenderamata. Baju, sepatu, topi, apapun yang bisa dijadikan gimmick,” kata David menyebutkan. Selain itu, promosi tetap sama seperti band mainstream. Merilis album, dan mempromosikan lewat media.

Secara umum, penjualan album band indie sama. Mereka hanya lebih spesifik karena menembak ceruk pasar tertentu. Bagi beberapa pakar pemasaran, itu sejatinya strategi bagus menguasai pasar.